SAMSUL ARIFIN

Sering mengeluh dengan keadaan hidup kalian??? Mungkin cerita perjalananku ini bisa jadi pertimbangan untuk sahabat yang merasa bosan, mengeluh dengan keadaan sahabat. Walaupun hidup sahabat tidak seberuntung hidupku, jangan putus asa yaa... Jangan mengeluh. “WE ARE NOT THE BEST, BUT WE ARE GOING TO BE BETTER”.
Hemm... Baiklah, Kita akan mulai berbagi cerita....
Hari kelahiranku == > Sekitar pkl 4 sore, hari ke 4 (Rabu), 4 – 4 – 1990, aku dilahirkan di Desa Tanjung Harapan Kec. Marga Tiga Lampung Timur. Tak lama kemudian, sekitar jam 12 malam, suasana rumahku yang tadinya penuh dengan suka cita karena anggota keluarga bertambah, tiba-tiba hening setibanya berita ada seorang pria yang sudah dirawat di RSU A. Yani Metro selama 2 minggu MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA, itu adalah Bapakku. Kabar itu tak langsung disampaikan kepada Ibuku yang baru saja melahirkanku di rumah Nenek (sekarang aku tinggal di sana). Jenazah “Bapak”ku (Sapaan yang belum pernah saya ucapkan sejak lahir) dibawa ke rumahku yang berada di pojok rumah nenek. Ibuku bertanya, kenapa ada mobil tengah malam seperti itu (waktu itu sekitar pukul 2.00 dini hari)? Ah, itu mobil kopra(kelapa panggang), jawab paman yang khawatir sekaligus bingung bagaimana menyampaikan berita itu. Akhirnya Ibu diberitahu oleh paman di pagi hari. Ekspresi yang mengejutkan ditunjukkan Ibu, seolah sudah mengetahuinya, Ibuku tetap tenang dan tidak menunjukkan kesedihannya, apalagi histeris.

Sepeninggal Bapak == > Saat itu Ibu masih terhitung muda, Usianya +- 28 Tahun. Usia yang cukup muda untuk Ibu dengan 4 orang anak. Namun Ibu tidak pernah mau menikah lagi, kebahagiaan anak menjadi alasan pokoknya. Walaupun Setelah Bapak tidak ada di tengah-tengah keluarga kami,  kehidupan keluarga kami jauh berubah, yang sebelumnya segala kebutuhan keluarga tercukupi dengan nafkah yang diberikan oleh Bapak, dan Ibu berusaha belajar melanjutkan usaha Bapak tapi tidak berhasil, kami bangkrut, terpuruk secara Ekonomi.Tapi Alhamdulillah keadaan itu tidak membuat kami sedih, keluarga kami tetap harmonis. Ipin (sapaanku di keluarga) yang dari lahir memang belum pernah merasakan kelebihan dari segi Ekonomi tidak pernah merasa sedih atas keadaan itu, itu semua karena didikan dari orang tua dan kakak-kakakku yang begitu perhatian.
Sekolah di TK PGRI == > Ipin kecilpun memasuki usia sekolah, ipin kecilpun minta sekolah di SD kelas 2, jika tidak di SD tidak mau sekolah. Namun karena usia yang belum cukup, walau Ibu berusaha membujuk Bapak Guru (Bpk. Fatkhul Mu’in), ipin kecil tetap tidak boleh masuk SD, apalagi kelas 2.. hehee...  Akhirnya Ipin kecil benar” tidak mau sekolah... Di tahun berikutnya ipin kecil didaftarkan di SD namun ia menolaknya, ipin kecil ingin sekolah di TK. Alasannya sederhana, di TK setiap hari Sabtu dibagi Jajan(Cerita paman dan kakakku). Akhirnya ipin kecil sekolah di TK PGRI Tj Harapan Marga Tiga. Dari awal masuk sekolah, aku berangkat bareng dengan tetangga yang sekolah di SD N 2 Tj harapan yang letaknya memang berdekatan dengan TK tempatku sekolah. Tidak pernah diantar, apalagi ditunggu, karena saat itu aku merasa malu jika berangkat sekolah bareng orang tua... Gengsi laah, sekolah kok dianter... hehee. Ipin kecil pernah mendapatkan kepercayaan dari Ibu guru untuk mewakili teman-teman membacakan surat Al-Ikhlas di depan tamu undangan pada suatu acara. Hal itu begitu berkesan bagi Ipin kecil.
Sekolah di SD N 2 Tanjung Harapan == > SD itu berubah nama menjadi SD N 1 Tanjung Harapan sejak aku duduk di kelas 2. Terhitung hampir setiap hari sebelum berangkat sekolah aku dan kakakku sarapan dengan SAMBAL BAWANG, sesekali ada tempe goreng, tapi JARANG BANGET. Ya, kami tidak menganggap hidup kami susah, kami menikmati itu. Hal yang sering membuatku sedih ialah ketika orang bertanya kepadaku perihal Bapak, misalnya “Sampean anak e sopo?”, “Bapak Kerjo opo?”, “Sopo jeneng Bapakmu?”, pertanyaan” itu tidak bisa langsung aku jawab, pasti air mataku tidak tertahan dan jatuh, sembari menahan isakan tangisku, aku menjawab pertanyaan” itu dengan lirih... selalu begitu hingga aku lulus SD. Ya, panggilan “Bapak” yang tak pernah ku ucapkan sejak lahir itu sering kali ditanyakan oleh orang” di sekitarku... Itu karena mereka tidak tahu tentang keadaanku, lain halnya dengan orang yang mengenalku, mereka sering kali mengungkit” masa” Bapak masih hidup,  itupun sering membuatku meneteskan air mata... Entah kenapa, mungkin rasa rindu akan kehadiran sosok yang belum pernah kutemui...
Ipin kecil bukanlah anak yang pintar, bukanlah anak yang rajin belajar. Masih tajam diingatanku, dulu ketika kelas 5 SD pernah terjadi perdebatan kecil dengan kakak ke 2 ku. Ia menyuruhku belajar, “Pin, gek belajar kono”, kata kakak ku dalam bahasa jawa. “Belajar ki piye”?, jawabku polos. “Yo belajar moco-moco opo kono”, kakakku menimpali. “La aku wes iso moco”, jawabku PD. Hemmm... Namun saat itu Ipin kecil sering merasa beruntung, ia meyakini bahwa Bapak selalu membantunya saat kesulitan, termasuk ketika mengerjakan soal Ulangan Caturwulan (Sekarang Ujian Akhir Semester). Ia tak pernah belajar, tapi ia beruntung, sering memperoleh peringkat I di kelas, terhitung 17 kali mengikuti Ulangan Caturwulan, ia peringkat I sebanyak 12 kali. Namun ia tetap meyakini bahwa ketika mengerjakan soal Bapak selalu membantunya, ya, ia meyakini hal itu hingga Lulus SD. (Keyakinan itu hilang saat ia masuk dan memperoleh pelajaran di MTs).
Sekolah di MTs Ma’arif NU 13 Hargomulyo == > Lulus SD aku ditawari oleh salah seorang guru untuk masuk di SMP Negeri, biayanya murah, katanya... Negeri, lebih berkualitas, Katanya... Tapi waktu itu aku hanya pengen belajar di MTs Ma’arif NU 5 Sekampung, sehingga saat ditanya oleh siapapun tentang kelanjutan belajarku, aku selalu menjawab MTs Ma’arif 5. Namun hal itu tidak terwujud karena orang tua tidak sanggup untuk biaya sehari-hari (transport), selain itu kakaku yang ke 3 sedang sekolah di MTs juga, yakni di MTs 13 (sebutan plesetannya MTs Tiga Kelas karena memang hanya ada 3 kelas waktu itu, kelas 1, 2 dan 3 masing” 1 kelas). Sehingga aku diminta untuk terima sekolah di sana. Dengan berat hati aku turuti kemauan orangtuaku, ketika kakakku lulus MTs, aku beberapa kali minta pindah ke MTs Ma’arif 5 namun tidak pernah dituruti, terhitung 3 kali aku minta pindah ke sana. Akhirnya aku bertahan sampai Lulus, Alhamdulillah... Setelah Lulus MTs, akupun melanjutkan belajar di MA Ma’arif NU 5 Sekampung Lampung Timur.
Sekolah di MA Ma’arif NU 5 Sekampung Lampung Timur == > Dulu aku tidak diperbolehkan sekolah di MTs Ma’arif 5, setelah lulus MTs pun aku dihadapkan dengan pilihan berat, aku dan kakakku yang waktu itu sudah berhenti sekolah selama 2 tahun ingin melanjutkan belajar bersama, kami diperbolehkan sekolah, asal mau naik sepeda, karena tidak ada biaya untuk ongkos angkot, tapi karena kami benar” pengen lanjut belajar, kamipun menyanggupinya, kami sudah beli seragam MA, namun entah kenapa kakakku tidak jadi sekolah, belakangan aku tahu dari cerita pamanku bahwa kakek yang mengurusi kami sepeninggal Bapak menitipkan pesan kepada paman untuk mengajak kakakku tinggal bersamanya...
                Sebelum mendaftarpun aku diajak paman ke rumah Almaghfurlah Bapak Zubaidi yasir (Saat itu bendahara MA) untuk meminta keringanan biaya sekolah, beliau tidak bisa memutuskan dan menyarankan pamanku untuk datang ke sekolah dan bicara dengan Kepala Madrasah secara langsung (waktu itu Bapak Rudi Ahmad Fauzi), setelah perbincangan panjang, hari itu kami pulang dengan kecil hati... tidak ada kepastian atas permintaan pamanku itu, tapi kami tetap yakin pasti ada jalan selagi mau berusaha... 1 semester berjalan, aku belum bayar sama sekali, beberapa kali dipanggil pihak sekolah, ditanya perihal administrasi sekolah, akhirnya menjelang semesteran ada rizki walaupun belum cukup untuk melunasi biaya 1 semester itu (waktu itu biaya SPP 40.000/bln), aku menemui bendahara untuk membayarkan uang dari Ibuku itu, hal tak terduga, kartu SPP ku tertuliskan “LUNAS”, aku masih belum percaya, kan aku belum bayar. Hingga pihak sekolah menjelaskan kepadaku bahwa 1 semester itu aku dibebaskan biaya, Alhamdulillah... Namun disampaikan kepadaku, bahwa aku bebas biaya sekolah 1 semester itu saja, kedepannya tidak lagi karena gantian dengan siswa lain.
                Akhirnya mulai semester 2 aku berusaha dengan modal Bahasa Inggris yang aku pelajari di Permata College sewaktu MTs, Bapak Ridwan Khoironi sebagai Guru kami waktu itu dan selamanya beliau adalah guru kami, guru yang menggembleng mental kami. Memang sejak aku masih MTs, ketika beliau berhalangan hadir di kelas lain, aku sesekali diminta menggantikan beliau mengajar kelas permulaan (Pre-Elementary) itu, dari situlah aku belajar hingga aku di MA memasuki semester ke 2 akhirnya diberi kepercayaan untuk mengurus beberapa kelas bersama beberapa Sahabat-sahabatku, sekaligus partnerku (Deni Sahrudin (Hargomulyo), Yatino (Sidodadi), Wiji Lestari (Sidodadi), Ratnasari (Hargomulyo), Nikmah (Hargomulyo), Anshori/Charmidin (PPPDM), Binti (Putri Abah Khusnan), Imam Anshori (PPIF)). Dari situ aku mendapatkan rizki untuk membantu Ibu membiayai sekolahku. Waktu itu kegiatan belajar di sekolah selesai pkl. 13.30 WIB, sedangkan kelas kursus di mulai pkl. 14.00, jadi aku selalu bawa ganti untuk persiapan kelas kursus... Kelas kursus selesai pkl. 17.00, tak jarang bahkan hampir tiap hari aku sampai di rumah hampir maghrib. Seusai maghrib ada kegiatan di mushola hingga Isya’, begitu terus hingga aku kelas XII. Di kelas XII kami bertemu guru Komputer yang nantinya membuat kami tertarik belajar komputer lebih banyak. Ia adalah Bapak Indra Purnama Jaya, dari beliaulah kami tahu banyak informasi tentang perkembangan teknologi sehingga tertarik untuk belajar. Singkat cerita kami ber 8 (Imam Syafi’i, Deni Sahrudin, Ari Setiawan, Wahid Febrianto, Mahfudz, Didin Alisyabana, Rizal Arifin, dan aku sendiri) menemui beliau untuk minta waktu mengajari kami. Hasil musyawarah, kami belajar komputer di malam hari, tepatnya seusai kegiatan di musholaku selesai (sekitar pkl. 21.00-23.00). Itu berlangsung hingga menjelang Ujian Nasional.

Menjadi Penjaga Warnet == > Setelah lulus pun aku dalam kebimbangan, pengen lanjut belajar ke nyantri ke jawa, tapi karena tidak ada biaya dan kurangnya informasi, akhirnya niat itu kandas. Tapi dalam benakku tertanam, aku harus lanjut belajar, entah di mana... Dalam keadaan itu, pak Indra yang baru mendirikan Warnet bersama 2 partnernya yang juga guru kami (Pak Eko Riyanto dan Pak Marwanto) menyarankan untuk menunggu warnet itu beberapa lama secara bergantian (imam dan aku). Dari situ kami cari info tentang kursusan komputer, dan singkat cerita, setelah 2 bulan kami nunggu warnet, kami dapat informasi tentang kursusan komputer yang sesuai dengan keinginan. Setelah lama berselancar di Internet, pilihan kami jatuh pada LP3* Nurul Fikri Depok, di Jl. Margonda Raya. Bersambung dulu... 

1 Response to "SAMSUL ARIFIN"

Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]